TEOLOGIS, RELEVAN, APLIKATIF, CENDIKIA, KONTEKSTUAL
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home
<p><strong>TRACK:</strong> Jurnal Kepemimpinan Kristen, Teologi, dan Entrerpreneurship merupakan Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi dan Entrepreneurship Pringgading (STEP), Semarang. Jurnal ini bertujuan untuk menyajikan hasil-hasil penelitian terbaru dan belum pernah dipublikasikan, yang bersifat Teologis, Relevan, Aplikatif, Cendekia, dan Kontekstual, yang dapat memberikan sumbangan-sumbangan, baik secara teoritis maupun praktis, bagi kepemimpinan Kristen yang inspiratif dan mandiri dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat serta pengembangan konsep-konsep teologis kewirausahaan yang Alkitabiah dan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Kristen.</p> <p>Jurnal <strong>Teologis, Relevan, Aplikatif, Cendekia, Kontekstual: Jurnal Kepemimpinan Kristen, Teologi, dan Entrepreneurship </strong>telah Terakreditasi di Peringkat <strong>SINTA 3</strong> mulai Volume 2 Nomor 2 Tahun 2023 sampai Volume 7 Nomor 1 Tahun 2028</p>SEKOLAH TINGGI TEOLOGI DAN ENTREPRENEURSHIP PRINGGADING (STEP) SEMARANGid-IDTEOLOGIS, RELEVAN, APLIKATIF, CENDIKIA, KONTEKSTUAL2829-9108YUSUF DALAM KEJADIAN 37-50 SEBAGAI MODEL KEPEMIMPINAN DAN KEWIRAUSAHAAN BAGI ENTREPRENEUR KRISTEN INDONESIA
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home/article/view/260
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan paradigma kewirausahaan yang mengintegrasikan kesuksesan bisnis dengan nilai-nilai spiritual dan etika yang tangguh, khususnya bagi entrepreneur Kristen Indonesia yang kerap menghadapi disonansi antara iman dan praktik bisnis. Narasi Yusuf dalam Kejadian 37-50 dipandang sebagai sumber potensial model integratif, namun kajian sistematis melalui lensa kewirausahaan masih merupakan celah akademis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan: bagaimana narasi kehidupan Yusuf dapat dimaknai sebagai model kewirausahaan dan kepemimpinan yang inspiratif bagi entrepreneur Kristen di Indonesia? Metode yang digunakan adalah studi pustaka kualitatif dengan pendekatan interdisipliner, menganalisis teks Kitab Kejadian secara hermeneutis dan mensintesiskannya dengan konsep-konsep manajemen serta teori kepemimpinan. Pembahasan mengkonstruksi tiga pilar model utama: (1) ketangguhan dan visi jangka panjang sebagai fondasi entrepreneurial spirit, (2) integritas dan prinsip <em>stewardship</em> sebagai paradigma manajemen sumber daya yang etis, dan (3) kepemimpinan yang melayani dan rekonsiliasi sebagai fondasi modal sosial yang transformasional. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa ketiga pilar tersebut membentuk suatu model holistik yang dapat berfungsi sebagai kerangka refleksi dan alat diagnostik untuk pengembangan kewirausahaan yang tidak hanya sukses secara materiil, tetapi juga bermakna secara spiritual dan sosial dalam konteks Indonesia.</p>Ragil KristiawanPujiati Pujiati
Hak Cipta (c) 2026 Ragil Kristiawan, Pujiati Pujiati
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-04-172026-04-175132310.61660/track.v5i1.260ESAU’S JOURNEY OF RECONCILIATION
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home/article/view/264
<p>Artikel ini mengkaji ulang sosok Esau dibandingkan dengan saudaranya, Yakub, dengan fokus pada kekuatan kepemimpinan masing-masing seperti yang dinarasikan dalam Kejadian 25–36. Secara tradisional, para sarjana dalam studi Alkitab dan refleksi teologis telah memprioritaskan Yakub sebagai patriark perjanjian yang menerima hak kesulungan, sementara Esau telah dipinggirkan sebagaianak sulung yang ditolak, bahkan dilupakan. Dengan menggunakan metodologi kualitatif yang menggabungkan studi eksegetis, analisis naratif teks Ibrani, dan teori kepemimpinan komparatif, artikel ini mengkaji bagian-bagian kunci seperti rekonsiliasi Esau dengan Yakub dalam Kejadian 33 dan penetapan silsilah Edom dalam Kejadian 36. Sebaliknya, Yakub digambarkan sebagai pemimpin yang dibentuk oleh otoritas perjanjian dan manuver strategis. Secara keseluruhan, kehidupan mereka menawarkan dua paradigma kepemimpinan yang saling melengkapi—satu spiritual dan visioner, yang lain pragmatis dan rekonsiliatif. Temuan ini menunjukkan bahwa Esau tidak boleh direduksi menjadi sosok yang lebih rendah, tetapi harus diakui sebagai model kepemimpinan yang menghargai pengampunan, penyembuhan, dan keberanian untuk melangkah maju melampaui masa lalu. Penilaian ulang ini tidak hanya memperkaya studi kepemimpinan alkitabiah tetapi juga memberikan wawasan kontemporer tentang menyeimbangkan visi perjanjian dengan rekonsiliasi pragmatis dalam konteks kepemimpinan.</p>SugihyonoAnon Dwi Lukito
Hak Cipta (c) 2026 Sugihyono, Anon Dwi Lukito
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-04-172026-04-1751243610.61660/track.v5i1.264MODEL TECHNO-STEWARD LEADERSHIP
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home/article/view/259
<p>Disrupsi Kecerdasan Buatan (AI) tidak hanya membawa transformasi teknologi, tetapi juga tantangan antropologis dan etis yang mendalam terhadap pemahaman manusia dan praktik kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk membangun suatu kerangka kepemimpinan Kristen yang responsif dengan berargumen bahwa doktrin <em>Imago Dei</em> (manusia sebagai gambar Allah) menyediakan fondasi teologis-etis yang penting untuk menavigasi era AI. Melalui metode studi literatur interdisipliner dan analisis konseptual yang bersifat eksploratif-normatif, penelitian ini pertama-tama mengidentifikasi tiga tantangan utama: (1) reduksionisme antropologis yang mereduksi manusia menjadi sekadar data, (2) dislokasi tanggung jawab (<em>responsibility gap</em>) akibat sistem <em>black box</em>, dan (3) ancaman terhadap panggilan manusia untuk berkarya dan berkreasi. Sebagai respons, penelitian ini menurunkan empat prinsip operasional dari <em>Imago Dei</em>: Prinsip Martabat, Penatalayanan (<em>Stewardship</em>), Relasionalitas, serta Keadilan dan Kebaikan Bersama (<em>Common Good</em>). Prinsip-prinsip ini kemudian dioperasionalkan ke dalam tiga ranah praktik kepemimpinan: (a) dalam pengambilan keputusan strategis melalui penerapan <em>Ethical Impact Assessment</em> yang diperkaya dengan pertimbangan teologis-antropologis; (b) dalam membangun budaya organisasi melalui penciptaan ruang dialog interdisipliner (teknisi, etikawan, teolog) dan pelatihan etika berbasis narasi Alkitab; serta (c) dalam keterlibatan publik melalui advokasi kebijakan AI yang berpusat pada manusia dan berkeadilan. Sebagai sintesis, penelitian ini mengusulkan model <strong>“Techno-Steward Leadership”</strong> sebagai paradigma ideal, yang mensyaratkan visi antropologis yang dalam, literasi teknologi-kritis, ketangguhan etika (<em>moral courage</em>), dan komitmen pada formasi karakter. Kesimpulannya, penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan Kristen di era AI dipanggil untuk berfungsi sebagai penatalayan teknologi yang bijaksana, yang mengarahkan inovasi digital untuk memuliakan martabat manusia sebagai <em>Imago Dei</em> dan membangun kebaikan bersama dalam masyarakat.</p>Reza SandikiAlwi Widianto
Hak Cipta (c) 2026 Reza Sandiki, Alwi Widianto
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-04-172026-04-1751376110.61660/track.v5i1.259POST-POWER SYNDROME DALAM KEPEMIMPINAN KRISTEN
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home/article/view/262
<p>Fenomena <em>post-power syndrome</em> merupakan tantangan psikososial yang kerap muncul ketika individu mengalami kehilangan otoritas dan peran kepemimpinan, termasuk dalam konteks kepemimpinan Kristen. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji fenomena tersebut secara teologis dan biblika dengan menjadikan Ulangan 31–34 sebagai fokus analisis utama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis analisis biblika-teologis, yang mencakup pembacaan teks secara cermat, eksegesis naratif, serta sintesis tematik dalam kerangka kanonik dan teologis Alkitab. Sumber data meliputi teks Alkitab, literatur teologi biblika, dan kajian terpilih dalam bidang psikologi kepemimpinan yang relevan dengan isu transisi kekuasaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Musa menghadapi pengalihan kepemimpinan kepada Yosua tanpa memperlihatkan disorientasi identitas maupun kerentanan spiritual yang lazim dikaitkan dengan <em>post-power syndrome</em>. Temuan ini mengindikasikan bahwa kematangan spiritual, ketaatan terhadap kehendak Allah, serta pemahaman kepemimpinan sebagai mandat ilahi yang bersifat sementara berperan signifikan dalam mengantisipasi krisis pascakepemimpinan. Artikel ini mengusulkan langkah-langkah antisipatif bagi pemimpin Kristen, antara lain pembentukan spiritualitas yang matang, internalisasi teologi kekuasaan yang berorientasi pada pelayanan, serta pendampingan pastoral yang berkelanjutan dalam masa transisi kepemimpinan.</p>Ferijanto SetiadarmaEva Kristianti
Hak Cipta (c) 2026 Ferijanto Setiadarma, Eva Kristianti
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-04-172026-04-1751627910.61660/track.v5i1.262KEPEMIMPINAN OTORITER SEBAGAI FUNGSI, BUKAN IDENTITAS
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home/article/view/263
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi pemaknaan negatif atas istilah "otoriter" dalam diskursus kepemimpinan kontemporer dengan membedakan secara tegas antara otoritarianisme sebagai identitas yang melekat pada diri pemimpin dan otoritarianisme sebagai fungsi yang dapat dijalankan secara legitimate dalam kondisi tertentu. Menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif-filosofis, penelitian ini menganalisis dua sumber utama: pemikiran Plato tentang Filsuf-Raja dalam Alegori Gua (Republic Buku V-VII) dan momen-momen pengambilan keputusan unilateral Yesus dalam Injil kanonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Plato menawarkan model kepemimpinan otoriter fungsional di mana Filsuf-Raja berkewajiban memimpin secara tegas demi membebaskan masyarakat dari ketidaktahuan, berdasarkan pengetahuan tentang kebenaran tertinggi dan dengan tujuan kebaikan bersama. Dalam Injil, teridentifikasi empat momen di mana Yesus mengambil keputusan secara unilateral: pengampunan terhadap perempuan berzinah, penyembuhan pada hari Sabat, pemanggilan murid-murid pertama, dan pembersihan Bait Allah. Tindakan-tindakan ini selalu didasarkan pada klaim otoritas yang unik, ditujukan untuk pembebasan pihak lain, dan dilakukan dengan kesediaan membayar harga mahal. Berdasarkan sintesis antara pemikiran Plato dan praktik Yesus, dirumuskan empat syarat legitimasi kepemimpinan otoriter: syarat epistemik (kepemilikan kebenaran obyektif), syarat teleologis (tujuan pembebasan), syarat situasional (konteks membutuhkan ketegasan), dan syarat moral (integritas dan kerendahan hati). Keempat syarat ini bersifat kumulatif dan harus dipenuhi secara simultan; jika tidak, otoritarianisme jatuh menjadi tirani. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan teori kepemimpinan yang lebih bernuansa dengan membedakan fungsi dari identitas, serta menyediakan kerangka kritis untuk mengevaluasi klaim-klaim kepemimpinan otoriter.</p>Agus Rosalena Yutang
Hak Cipta (c) 2026 Agus Rosalena Yutang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-04-172026-04-17518011010.61660/track.v5i1.263KEPEMIMPINAN ELI SEBAGAI PRAKTIK KEKUASAAN RELASIONAL
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home/article/view/265
<p>Kepemimpinan relasional yang menekankan kedekatan dan kepercayaan seringkali menjadi jalan masuk bagi praktik nepotisme, khususnya dalam organisasi berbasis komunitas seperti gereja. Artikel ini bertujuan menganalisis kepemimpinan Imam Eli (1 Samuel 2–4) melalui lensa teori kekuasaan relasional Michel Foucault untuk mengungkap mekanisme nepotisme sosial yang terselubung dalam struktur otoritas keagamaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif hermeneutika dan analisis wacana kritis dengan data primer teks Alkitab dan data sekunder literatur tentang nepotisme dan teori kekuasaan. Temuan menunjukkan bahwa kegagalan kepemimpinan Eli bukan semata kegagalan moral individu, melainkan produk dari jaringan kekuasaan relasional yang memposisikan anak-anaknya sebagai inner circle yang menormalisasi penyimpangan dan menghambat akuntabilitas. Analisis Foucaultian mengungkap bagaimana pastoral power (kuasa gembala) dapat terdistorsi menjadi alat dominasi melalui kedekatan relasional. Artikel ini berkontribusi pada diskusi kepemimpinan Kristen dengan memperkenalkan perspektif kritis-sosiologis untuk mendiagnosis patologi nepotisme relasional, serta menawarkan kerangka pencegahan berbasis sistem akuntabilitas dan transparansi. Hasil penelitian relevan bagi organisasi religius dan sekuler dalam mengelola risiko penyalahgunaan kuasa melalui lingkaran dalam.</p>Willy Etantri Wira AdiPatrick MartinusErna Setianingrum
Hak Cipta (c) 2026 Willy Etantri, Patrick Martinus, Erna Setianingrum
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-04-172026-04-175111114210.61660/track.v5i1.265MODEL "TEOPRENEUR"
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home/article/view/266
<p>Penelitian ini bertujuan mengembangkan model kurikulum berbasis kompetensi ganda "Teopreneur" yang mengintegrasikan ilmu teologi dan kewirausahaan dalam pendidikan tinggi teologi di Indonesia. Isu yang dikaji adalah kesenjangan antara pendidikan teologi yang berfokus pada kompetensi spiritual dengan tuntutan ekonomi global-lokal yang memerlukan kemampuan adaptif dan kemandirian finansial lulusan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka sistematis, data dikumpulkan dari jurnal terindeks Scopus dan Sinta, kemudian dianalisis dengan teknik analisis isi tematik. Temuan utama menghasilkan dua kontribusi: pertama, matriks kompetensi ganda yang mencakup domain teologis-kepemimpinan (60%), kewirausahaan (40%), dan kompetensi integratif; kedua, desain kurikulum Sarjana Kepemimpinan Kristen 144 SKS dengan struktur integratif melalui magang ganda, proyek capstone, dan penilaian autentik. Model ini memperluas wacana integrasi iman dan kewirausahaan sebagai kerangka pendidikan utuh, sekaligus memberikan panduan praktis bagi perguruan tinggi teologi dalam merancang pembelajaran kontekstual yang selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) dan potensi ekonomi kerakyatan Indonesia. Implikasinya, model ini berpotensi memperkuat daya saing lulusan, kemandirian ekonomi pelayanan, serta peran gereja dalam pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menguji validitas dan efektivitas model melalui uji empiris di lapangan.</p>Aris MargiantoJosse Kustiadi
Hak Cipta (c) 2026 Aris Margianto, Josse Kustiadi
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-04-172026-04-175114315910.61660/track.v5i1.266RESEPSI DAN TRANSFORMASI ISTILAH ΔΟῦΛΟΣ ΧΡΙΣΤΟῦ (DOULOS CHRISTOU) DALAM KONTEKS SOSIAL-EKONOMI ABAD PERTAMA
https://ejurnal.stepsmg.ac.id/home/article/view/255
<p>Penelitian ini membahas istilah Yunani <em>δοῦλος Χριστοῦ</em> (“hamba Kristus”) yang muncul dalam surat-surat Paulus dengan menelusuri konteks sosial-ekonomi, resepsi <strong>kontekstual</strong>, dan transformasi teologisnya. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis pendekatan historis-sosiologis dan eksegesis tekstual, kajian ini merekonstruksi realitas perbudakan dalam dunia Yunani-Romawi dan Yahudi abad pertama sekaligus menganalisis bagaimana Paulus menafsirkan ulang simbol tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>δοῦλος</em> dalam konteks Romawi menandakan status hina tanpa hak sipil, sementara dalam tradisi Yahudi ia memiliki nuansa kehormatan sebagai “hamba Tuhan.” Paulus mentransformasi istilah ini menjadi identitas iman yang paradoksal: apa yang dianggap rendah justru ditinggikan sebagai tanda kebebasan rohani, kesetiaan, dan pengabdian kepada Kristus. Analisis aspek verbal memperlihatkan dimensi ganda identitas ini, yakni keputusan definitif yang tuntas (aorist) sekaligus pola hidup pelayanan yang berkesinambungan (present). Kesimpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa <em>δοῦλος Χριστοῦ</em> bukan sekadar label pribadi Paulus, tetapi simbol subversif yang membentuk identitas, spiritualitas, dan relasi egaliter dalam komunitas Kristen mula-mula. Penelitian lebih lanjut dianjurkan untuk menelusuri resepsi istilah ini dalam tulisan Perjanjian Baru lainnya dan literatur Kristen awal.</p>Yuki BudirahardjoRobinson Rimun
Hak Cipta (c) 2026 Yuki Budirahardjo, Robinson Rimun
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-04-172026-04-175116018310.61660/track.v5i1.255